IRYASIR ( Ikatan Remaja Yasinan Keliling Rumah ke Rumah ) Jatimakmur Pondok Gede BEKASI

Kamis, 23 Desember 2010

Hukum Wanita Haid Berdiam di Masjid

Jumhur ulama, di antaranya imam madzhab yang empat, sepakat bahwa wanita yang haid tidak boleh berdiam (al-lubts) di dalam masjid, karena ada hadits Nabi Saw yang mengharamkannya. Imam Dawud Azh-Zhahiri membolehkan wanita haid dan orang junub berdiam di masjid. Namun pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur yang mengharamkannya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw:

Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang haid dan orang junub.” [HR. Abu Dawud].

Yang dimaksud berdiam (al-lubtsu, atau al-muktsu) artinya berdiam atau tinggal di masjid, misalnya duduk untuk mengisi atau mendengarkan pengajian, atau tidur di dalam masjid. Tidak ada bedanya apakah duduk atau berdiri. Berjalan mondar-mandir (at-taraddud) di dalam masjid, juga tidak dibolehkan bagi wanita haid.

dasar-dasar

  1. Muhammad bin Abdurrahman, Rohmatul Ummah fi Ikhtilaf Al-A’immah, hal. 17.
  2. Lihat Ash-Shan’ani, Subulus Salam, I/92.
  3. Hadits ini shahih menurut Ibn Khuzaimah. Lihat Subulus Salam, I/92. Menurut Ibn al-Qaththan, hadits ini hasan, Kifayatul Akhyar, I/80.
  4. Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/80.


Adapun jika seorang wanita haid sekedar lewat atau melintas (al-murur) di dalam masjid karena suatu keperluan, maka itu tidak apa-apa. Dengan catatan wanita itu tidak merasa khawatir akan mengotori masjid. Dalilnya, Nabi Saw pernah memerintah A’isyah untuk membawa khumrah (semacam sajadah) yang ada di masjid. Lalu A’isyah berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid.” Rasul bersabda,”Sesungguhnya haidhmu itu bukan berada di tanganmu.” [HR. Muslim] Selain itu, ada riwayat lain bahwa Maimunah ra pernah berkata, “Salah seorang dari kami pernah membawa sajadah ke masjid lalu membentangkannya, padahal dia sedang haidh.” [HR. an-Nasâ’i).

Berdasarkan penjelasan di atas, sesungguhnya hukum syara’ dalam masalah ini telah jelas, yaitu wanita haid haram hukumnya berdiam di masjid. Adapun jika sekedar lewat atau melintas, hukumnya boleh dengan syarat tidak ada kekhawatiran akan mengotori masjid. Sebagian ulama memang ada yang membolehkan wanita haid berdiam di masjid asalkan ia merasa aman (tidak khawatir) akan dapat mengotori masjid, misalnya dengan memakai pembalut. Dalam Syarah al-Bajuri (jld. I, hal. 115), dikatakan, bahwa kalau wanita haid tidak khawatir akan mengotori masjid, atau bahkan merasa aman, maka pada saat itu tidak diharamkan baginya masuk masjid, tetapi hanya makruh saja.

Menurut pemahaman kami, pendapat itu tidak dapat diterima. Sebab pendapat tersebut tidak mempunyai landasan syar’i yang kuat. Pendapat tersebut menjadikan “kekhawatiran mengotori masjid”, sebagai illat (alasan penetapan hukum) bagi haramnya wanita berdiam di masjid. Jadi, jika kekhawatiran itu sudah lenyap (dengan memakai pembalut), maka hukumnya tidak haram lagi. Padahal, hadits yang ada tidak menunjukkan adanya illat bagi haramnya wanita haid untuk berdiam di masjid. Jadi tidak dapat dikatakan bahwa keharamannya dikarenakan ada kekhawatiran akan menajiskan masjid. Sehingga jika kekhawatiran itu lenyap (dengan memakai pembalut) maka hukumnya tidak haram. Tidak bisa dikatakan demikian, karena nash yang ada tidak menunjukkan adanya illat itu. Nabi Saw hanya mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang haid dan orang junub.” Nash ini jelas tidak menunjukkan adanya illat apa pun, baik illat secara sharahah (jelas), dalalah (penunjukan), istinbath, atau qiyas.

Lagi pula nash tersebut bersifat mutlak, bukan muqayyad. Jadi yang diharamkan berdiam di masjid adalah wanita haid, secara mutlak. Baik wanita haid itu akan dapat mengotori masjid, atau tidak akan mengotori masjid. Memakai pembalut atau tidak memakai pembalut. Jadi, selama tidak ada dalil yang memberikan taqyid (batasan atau sifat tertentu) —misalnya yang diharamkan hanya wanita haid yang dapat mengotori masjid— maka dalil hadits tersebut tetap berlaku untuk setiap wanita haid secara mutlak. Hal ini sesuai kaidah ushul fiqh: Al-muthlaqu yajriy ‘ala ithlâqihi mâ lam yarid dalîl at-taqyîd [Lafazh] mutlak tetap berlaku dalam kemutlakannya selama tidak ada dalil yang menunjukkan adanya taqyid (pemberian batasan/sifat tertentu).

Batasan Masjid

Setelah jelas wanita haid tidak boleh berdiam di masjid, maka pertanyaan berikutnya adalah, apa batasan masjid itu? Masjid adalah tempat yang ditetapkan untuk mendirikan sholat jama’ah bagi orang umum.

Yang dimaksud sholat jama’ah, terutama adalah sholat jama’ah lima waktu dan sholat Jum’at. Namun termasuk juga sholat jama’ah sunnah seperti sholat Tarawih dan sholat Idul Fitri atau Idul Adha. Di Indonesia, jika hanya untuk berjama’ah lima waktu tetapi tidak digunakan sholat Jum’at, tempat itu biasanya tidak disebut masjid, tapi disebut musholla, atau nama yang semisalnya, yaitu langgar (Jawa), surau (Sumatera Barat), atau meunasah (Aceh). Sedang istilah masjid atau masjid jami’, biasanya digunakan untuk tempat yang dipakai sholat Jum’at. Sebenarnya, semua itu termasuk kategori masjid, menurut definisi di atas. Karena yang penting tempat itu digunakan sholat berjama’ah untuk orang umum. Maka, terhadap musholla, atau langgar, surau, atau meunasah, diberlakukan juga hukum-hukum untuk masjid, misalnya wanita haid tidak boleh berdiam di dalamnya. Walaupun tidak dinamakan masjid. Adapun jika sebuah tempat disiapkan untuk sholat jama’ah, tapi hanya untuk orang tertentu (misal penghuni suatu rumah), maka tempat itu tidak dinamakan masjid, dan tidak diterapkan hukum-hukum masjid padanya. Demikian pula jika sebuah tempat hanya digunakan untuk sholat secara sendiri, bukan untuk sholat jama’ah, maka itu juga bukan dinamakan masjid.

Definisi di atas adalah definisi umum, yaitu untuk membedakan masjid dengan bangunan yang bukan masjid. Ada definisi khusus, yaitu masjid dalam pengertian tempat-tempat yang digunakan untuk sholat (mawadhi’ ash-sholat), atau tempat-tempat yang digunakan untuk sujud (mawdhi’ as-sujud).

Definisi khusus ini untuk membedakan berlakunya hukum masjid bagi sebuah kompleks bangunan masjid yang luas dan terdiri dari beberapa bangunan atau ruang untuk berbagai keperluan. Sebab adakalanya sebuah kompleks masjid itu memiliki banyak ruangan, atau mungkin mempunyai dua lantai, mempunyai kamar khusus untuk penjaga masjid, mempunyai ruang sidang/rapat, toko, teras, tempat parkir, dan sebagainya. Bahkan ada masjid yang lantai dasarnya kadang digunakan untuk acara resepsi pernikahan, pameran, dan sebagainya. Apakah semua ruangan itu disebut masjid dan berlaku hukum-hukum masjid? Menurut pemahaman kami, jawabnya tidak. Dalam keadaan ini, berlakulah definisi khusus masjid, yaitu masjid sebagai mawadhi’ ash-sholat (tempat-tempat sholat).

Maka dari itu, teras masjid bukanlah masjid, jika teras itu memang tidak digunakan untuk sholat jama’ah. Jika digunakan sholat jama’ah, termasuk masjid. Demikian pula bagian masjid yang lain, misalnya ruang sidang, ruang rapat, kamar penjaga masjid, tempat parkir, dan sebagainya. Semuanya bukan masjid jika tidak digunakan untuk sholat jama’ah. Ringkasnya, semua tempat atau ruang yang tidak digunakan sholat jama’ah, tidak dinamakan masjid, meskipun merupakan bagian dari keseluruhan bangunan masjid.

Bagaimana andaikata suatu tempat di masjid (misalkan teras) kadang digunakan sholat jama’ah dan kadang tidak? Jawabannya adalah sebagai berikut. Yang menjadi patokan adalah apakah suatu tempat itu lebih sering dipakai sholat jama’ah, atau lebih sering tidak dipakai untuk sholat jama’ah. Jika lebih sering dipakai sholat jama’ah, maka dihukumi masjid. Jika lebih sering tidak dipakai, maka tidak dianggap masjid.


Yang demikian itu bertolak dari suatu prinsip bahwa hukum syara’ itu didasarkan pada dugaan kuat (ghalabatuzh zhann). Dan dugaan kuat itu dapat disimpulkan dari kenyataan yang lebih banyak/dominan (aghlabiyah). Ini sebagaimana metode para fuqaha ketika menetapkan pensyariatan Musaqah (akad menyirami pohon) —bukan Muzara’ah (akad bagi hasil pertanian) — di tanah Khaybar. Mengapa? Karena tanah di Khaybar (sebelah utara Madinah) pada masa Nabi Saw sebagian besarnya adalah tanah-tanah yang berpohon kurma. Sedang di sela-sela pohon kurma itu, yang luasnya lebih sedikit, ada tanah-tanah kosong yang bisa ditanami gandum. Hal ini bisa diketahui dari riwayat Ibn Umar, bahwa hasil pertanian Khaybar yang diberikan Nabi kepada para isteri beliau, jumlahnya 100 wasaq, terdiri 80 wasaq buah kurma dan 20 wasaq gandum [HR. Bukhari]. Karena yang lebih banyak adalah hasil kurma, bukan gandum, maka akad yang ada di Khaybar sesungguhnya adalah Musaqah, bukan Muzara’ah.

Penjelasan di atas menunjukkan contoh kasus bahwa hukum syara’ itu dapat didasarkan pada kenyataan yang lebih banyak (aghlabiyah). Maka dari itu, ketika kita menghadapi fakta adanya teras masjid yang kadang dipakai sholat dan kadang tidak dipakai sholat jama’ah, kita harus melihat dulu, manakah yang aghlabiyah (yang lebih banyak/sering). Jika lebih sering dipakai sholat jama’ah, maka teras itu dihukumi masjid. Dan jika lebih sering tidak dipakai sholat jama’ah, maka teras itu dianggap bukan masjid. Wallahu a’lam [M. Shiddiq al-Jawi]

Referensi: http://alhijrah.cidensw.net/index.php?option=com_content&task=view&id=79

Selasa, 30 November 2010

Kreasi Remaja Iryasir 2

SAKITNYA HATI KU DAN RAPUH

Indahnya janji yang pernah terikrar
Manisnya cinta yang pernah tercipta
Bagaikan mimpi yang tak pernah berakhir
Sejak kau gantung cinta ini
Meski bibir tak mampu berucap
Meski mulut tak mampu berkata
Namun bulan dan bintang telah pahami
Betapa tulus cinta ini untukmu

Jika rindu ini menjenuh kanmu
Jika sayang ini menyakit kanmu
Jika cinta ini membuatmu menjauh
Aku rela engkau membenci cintaku

Bukannya hati ini tak sakit
Bukannya hati ini tak hancur
Bukannya hati ini tak perih
Hanya kepasrahan yang mengiringi

Terimakasih cintaku
Untuk kenangan yang pernah kau beri
Satu ikrar untukmu
Tak akan kumencari penggantimu

RAPUH :)
Beberapa permasalahan hidup terkadang membuat kita kehilangan mood atau kita sering mengenalnya dengan BT. Hal tersebut dapat di disebabkan karena Kemacetan lalu lintas, keadaan rumah atau kantor yang menjengkelkan, Keadaan tidak seperti yang kita inginkan dapat membuat banyak rencana berantakan. Memang banyak hal yang membuat perasaan dan suasana hati menjadi tidak enak, keadaan dimana emosi kita menjadi kacau.

Terkadang, jika kita dilanda perasaan kesal atau tidak menentu sehingga menjadikan perasaan/suasana hati menjadi tidak enak, terkadang kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya, hati ini terasa ingin marah, cemas, jengkel, bermacam-macam emosi negatif lain bercampur aduk. Dalam situasi ini kadang kita ingin sendiri dan tidak ingin seorangpun menggangu kita

Dalam keadaan kondisi emosi tidak stabil seperti ini, membuat hasil kerja tak akan baik, salah-salah hubungan kita dengan orang lain malah bertambah buruk. Pendek kata, tak ada kebaikan yang bisa diberikan oleh perasaan yang tidak stabil. Jadi sudah semestinya kita bisa meredakan mood yang tidak enak.

Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita meredakan mood yang buruk atau BT:

1. Sadari bahwa anda sedang mengalami ketidakstabilan Emosi (BT)

Kunci utamanya adalah menyadari bahwa anda sedang dilanda gejolak emosi. Bila anda tahu anda sedang marah, setidaknya anda bisa menolong diri sendiri untuk meredakan kemarahan. ketidakstabilan Emosi (BT) biasanya tidak gampang dijabarkan dengan jelas, tetapi begitu anda mengalami suasana hati yang runyam, segera sadari keadaan itu. Sadari juga efek dari ketidakstabilan Emosi (BT): mutu kerja merosot, kehilangan kustomer, negoisasi gagal, dan banyak lagi yang buruk. Jadi, cepat atasi bad mood anda sebelum mengganggu kerja anda berkepanjangan.

2. Tenangkan diri anda, saat anda sudah sadar bahwa anda sedang kebakaran dalam api ketidakstabilan Emosi (BT). Sekarang, tenangkan diri anda. Tarik nafas dalam-dalam berulang kali sampai ketegangan dalam diri anda reda. Lakukan relaksasi sederhana, misal, bernafas secara teratur sambil memejamkan mata,dengarkan musik. Coba reguklah 1 gelas air putih, atau manjakan diri anda Atau berdoa agar anda diberi kesabaran.

3. Selesaikan persoalan anda sesegera mungkin/cari jalan keluar

ketidakstabilan Emosi (BT), biasanya disebabkan oleh adanya persoalan. Maka menyelesaikan persoalan adalah pemecahan yang jitu. Jika anda bertengkar, segera selesaikan, berdamailah dan saling maaf-memaafkan. Bila anda berbeda pendapat dengan kolega atau atasan, lakukan diskusi dengan kepala dingin. Jika acara anda berantakan, lakukan janji ulang dan susun rencana baru. Jangan biarkan persoalan terus menggantung, itu memperpanjang penderitaan ketidakstabilan Emosi (BT) anda.

4. Bergerak, bergerak, dan bergeraklah

Jangan berdiam diri. Bergeraklah. Lakukan olahraga ringan. Buat diri anda berkeringat dan lelah. Bila anda diam saja, maka "ulat-ulat" emosi akan terus menggerogoti pikiran anda dan membuat anda terbayang-bayang hal yang tidak-tidak. Bergerak, bergerak, dan bergeraklah.

5. Segarkan diri anda.

Intinya sama dengan bergerak, lakukan sesuatu agar diri anda segar. Minum air putih banyak-banyak. Cuci muka dengan air segar. Makan dan minumlah sesuatu yang alami dan segar, seperti jus jeruk. Tetapi jauhi alkohol. Ia takkan banyak membantu, malah memperburuk saja. Jauhi gula, cokelat, makanan yang mengenyangkan, softdrink, dan sebagainya. Ini justru membuat anda kenyang, malas dan mengantuk. Kondisi demikian, alih-alih menjernihkan pikiran anda, malah memperbesar "bad mood" anda saja.

6. Jauhi amarah, pikiran dan emosi negatif lain.

Marah dan emosi-emosi negatif itu menghabiskan energi. Bila anda merasa "bad mood" sedang menyerang, kuatkan hati untuk tidak marah. Bersabarlah. Coba pandang wajah "bad mood" anda di cermin. Tak menyenangkan bukan?

7. Bergembiralah dengan teman-teman anda.

Sebaliknya, dekati teman-teman anda yang bisa memberikan kegembiraan. Temukan "refreshing" di sana. Tertawa dan tersenyumlah bersama mereka. Cegah "bad mood" dengan membina hubungan yang baik dan sehat dengan teman-teman anda. Hidup ini lebih mudah dilalui bersama mereka yang ceria ketimbang yang murung. Jangan tenggelam dalam kesedihan.

8. Cobalah lebih sabar dan toleransi kepada keadaan Sabar adalah menerima dengan ikhlas apa yang terjadi, karena keikhlasan diri atau pikiran akan membuat emosi kita lebih dapat di kontrol,

9. Berusahalah untuk lebih menikmati hidup ini.

Ya, semua "kecelakaan" atau kekacauan itu adalah bagian dari hidup. Terimalah itu apa adanya. Jangan berburuk sangka pada hidup ini. Pasti ada pelajaran di balik semua kesulitan. Nikmati saja.

Memang masalah yang mempengaruhi anda bisa terjadi setiap saat dimanasaja, kapan saja, tapi apakah anda mau hari anda berantakan atau membuat hari anda tetap indah.... silahkan tanyakan diri anda.. karena anda yang bisa dan mau untuk menjawabnya...

oleh Andrierro Jaguarpaw Gasrakgusruk pada 25 November 2009 jam 18:04

Selasa, 16 Maret 2010

WAHDI 25

WAHDI 25
Oleh: Ust.H.Wahyudi Madjid, S.Ag

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga ia merubah nasibnya sendiri”

Pada sebuah kisah, disebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya, bayi singa yang lemah itu hidup sebatang kara tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian segerombol kambing datang melintasi tempat itu, bayi singa itu menggerak – gerakan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya, ia merasa kasihan melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara itu, dan muncullah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.

Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu, membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang, merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu si bayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti kemana saja induk kambing pergi, jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing.

Hari berganti hari, dan anak singa itu tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing, ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak – anak kambing, bahkan anak singa yang mulai beranjak besar itupun mengeluarkan suara layaknya kambing, ia mengembik bukan mengaum. Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing – kambing lainnya, ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa. Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa, seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa, kambing – kambing berlarian panik semua ketakutan, induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.

“Kamu singa, cepat hadapi serigala itu ! cukup keluarkan auman yang
keras dan serigala itu pasti lari ketakutan “ Kata induk kambing pada anak singa
yang sudah tampak besar dan kekar. Tapi anak singa yang sejak kecil hidup ditengah – tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing, ia berteriak sekeras – kerasnya yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan (suara kambing), sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bias berbuat apa – apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusunya diterkam dan dibawa lari serigala. Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala, ia menatap anak singa dengan perasaan marah. “Seharusnya kamu bisa membela kami ! seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu ! seharusnya kamu bisa mengusir serigala yang jahat itu !“. Anak singa itu hanya bisa menunduk, ia tidak faham dengan maksud perkataan perkataan induk kambing, ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing – kambing yang lain, anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa – apa.

Hari berikutnya serigala itu datang lagi, kembali memburu kambing – kambing untuk disantap, kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada berani menolong, anak singa itu tidak kuat melihat kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya, dicengkeram serigala, dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu, serigala kaget bukan kepalang, melihat ada seekor singa dihadapannya, ia melepaskan cengekeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan, nyalinya habis, ia pasrah ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya. Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, “Emmmbeeeek!!!!”. Lalu ia mundur kebelakang, mengambil ancang – ancang untuk menyeruduk lagi, melihat tingkah laku anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang, ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu atau singa bermental kambing itu!. Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda –kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.

Anak singa itu tersungkur dan mengaduh, seperti kambing mengaduh, sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luas biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala, bukankah singa adalah raja hutan? Tanpa memberi ampun sedikitpun, serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu, serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu, disaat yang krisis itu, induk kambing tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting, anak singa bangun.

Dan tepat pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat, semua kambing ketakutan dan merapat, anak singa itu juga ikut takut dan ikut mendekat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit – birit saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu. Namun, tiba-tiba ia terkejut karena melihat di tengah kawanan –tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor anak kambing langsung lari, termasuk anak singa yang juga ikut lari. Singa dewasa itu masih bingung, ia heran kenapa anak singa itu lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, “Hai kamu jangan lari ¡ kamu anak singa bukan anak kambing !“. Namun anak singa itu terus lari dan lari, sementara singa dewasa terus mengejar. Ia tidak lagi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, “Jangan bunuh aku, ammmpuun !“, “Kau anak singa, bukan anak kambing, aku tidak membunuh anak singa”, kata singa dewasa. Dengan meronta – meronta anak singa itu berkata, “Tidak aku aku anak kambing! Tolong lepaskan aku !”

Anak singa itu meronta dan berteriak keras, suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing. Sang singa dewasa heran bukan main, bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram atau marah ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukan siapa sebenarnya anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan !”. “Ya, karena kamu anak singa. Bukan anak kambing !“ Tegas singa dewasa. “Jadi aku bukan anak kambing ? aku adalah seekor singa !”, kata anak singa. Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan ! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!“ Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum keras. Anak singa lalu menirukan dan mengaum dengan keras. Mengaum, menggetarkan sentero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Anak singa itu kembali berteriak dengan penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa ! raja hutan yang gagah perkasa !”. Singa dewasa terenyum bahagia mendengarnya.

Kita mungkin tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan–jangan kondisi kita, sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilkinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa–biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya yang sebenarnya. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilkinya.

Mari kita amati orang–orang yang ada disekitar kita. Diantara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya, hidup dinamis dan berprestasi. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis, detik demi detik yang dialuinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk melakukannya. Namun tidak sedikit pula yang hidup apa adanya atau bisa dibilang banyak. Mereka hidup apa adanya karena tak memiliki arah yang jelas, tidak faham untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Kita sering mendengar orang–orang yang ketika ditanya, “Bagaimana anda menjalani hidup Anda?” atau “Apa prinsip hidup anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis, “Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”

Tapi sayangnya mereka tidak benar–benar mengetahui filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka hanya memahami bahwa hidup mengalir bagaikan air yang hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup dengan cara hidup yang berkualitas. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Seperti anak singa di cerita di atas yang sebenarnya ia adalah ’seekor singa’ tapi tidak kalau dirinya ’seekor singa’. Seperti halnya si anak singa, banyak orang juga menganggap dirinya adalah ‘seekor kambing’ dan tetap menjadi ”seekor kambing” karena mereka selama ini hanya hidup dalam ‘kawanan kambing’, tidak tersadar bahwa ia dapat menjadi sesuatu yang lain

Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian masyarakat dunia islam saat ini. Bila kita amati orang di sekitar kita yang dari masih kita kecil hingga kita dewasa, pekerjaan mereka tidak berubah, bahkan teman–teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar atau teman–teman bermain yang terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita–cita mau jadi ini dan itu, ternyata keadaannya saat ini sangat jauh dari cita-citanya. Orang- orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah.Kenapa kita tidak berubah? Jawabannya karena mereka tidak mau berubah.Kenapa mereka tidak mau berubah?. Jawabannya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka harus tahu harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya mereka berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah, hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwarisi turun temurun.

Ada seorang sastrawan terkemuka, yang saat melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdaya-nya sampai dia mengatakan, “Aku malu jadi orang Indonesia”. Dimana mana, kita lebih banyak menemukan orang–orang lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang–orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh AllAH kepadanya. Orang–orang yang rela ditindas oleh hawa nafsu hingga membuat dirinya hina. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.

Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambng, meskipun sebenarnya mereka adalah singa!. Banyak yang minder dengan bangsa lain, seperti mindernya singa bermental kambing pada serigala dalam kisah diatas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar !. Ingatkah kita akan kejayaan nenek moyang pada zaman dahulu, seperti Kerajaan Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara (termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam) dan juga Kerajaan Majapahit yang digjaya dan adi kuasa. Lebih dari itu, bangsa ini, sebenarnya dan ini tidak mungkin disangkal, adalah mayoritas ummat islam terbesar didunia dimana terdapat dua ratus juta ummat islam di negeri tercinta Indonesia ini.

Dua ratus juta ummat islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa, penguasa belantara dunia!. Itulah yang seharusnya. Tetapi sayang, dua ratus juta yang sebenarnya justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa!. Yang memprihatinkan, ada yang sudah sadar dan menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi lebih memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa, malu untuk maju dan berprestasi! Dan, yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Sebab mereka tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Dan, yang paling menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa, bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh.

Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah SWT telah memberi predikat kepada kita sebagai umat terbaik di muka bumi. Karena itu, marilah kita bermental menjadi umat terbaik. Jangan menjadi umat yang hanya bermental terbelakang. Allah Swt berfirman, “Kalian adalah sebaik–sebaik ummat yang dilahirkan untuk menjadi manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah Swt”.